Aku diam terpaku, seperti tersihir oleh suasana aneh di kamar ini. Suasana ini memaksaku untuk mengingat sesuatu yang menurutku memuakan. Kamar ku, ya kamar ku yang sangat sederhana, bercat warna ungu pastel dan abu-abu yang menurutku sangat absurd. Hanya ada satu tempat tidur single yang menurut teman-teman ku seperti tempat tidur bayi, ya persetan lah mau tempat tidur ku sepeti kandang sapi pun aku tidak peduli. Terkadang kamar ku bisa jadi tempat yang sangat menyenangkan, lebih menyenangkan dari Dufan atau perpustakaan yang berisi ribuan komik, tapi kadang menjadi tempat paling sialan yang pernah aku tau.

Aku duduk tepat di depan meja belajar legenda ku, meja belajar ini ada sejak aku kelas 2 sekolah dasar, meja ini sudah penuh dengan sticker yang entah sticker apa saja itu, mulai dari sticker komunitas ku, klub sepak bola eropa, band-band indie dan metal, atau sekedar kata-kata motivasi yang sekarang akhirnya hanya menjadi sampah di meja belajarku. Dan meja ini pun menjadi saksi bisu kisah hidupku yang entahlah, hidup yang sangat absurd bagi ku. Hidup yang tak tahu apa tujuannya.

Ku lihat jam tangan ku, andai jam tangan itu bisa kuputar kebelakang dan aku bisa kembali ke masa lalu ku, tentu aku ingin memperbaiki ke salahan ku di masa lalu. Ya karena hidup itu jangan terlalu banyak berbuat kesalahan, karena pada akhir dunia nanti kita akan mempertanggung jawabkannya. Jika dari kecil aku sudah mengetahui kesalahan apa saja yang sudah kulukan di masa depan, tentu aku akan menghindari kesalahan sialan itu, ya tentu.

Dapat kurasakan otak ku semakin berputar dan mungkin jika kepala ku terdapat cerobong asap seperti rumah, mungkin saat ini kepala ku sudah mengeluarkan asap yang banyak karena sedang memikirkan masalah terkutuk ini. Masalah hidup ini, ya apa tujuan ku hidup di dunia ini? Apa kah surga dan neraka itu ada? Apakah benar Tuhan memaafkan segala kesalahan ku jika aku sudah bertobat? Segala pemikiran itu berlari-lari dan menari-nari di dalam kepala ku. Astaga andai bisa ku hapus semua memori otak ku seperti spongebob.

Aku teringat segala kesalahan ku di dunia yang orang bilang fana ini, tentu jika aku bisa memastikan jika Tuhan tidak memaafkan kesalahan ku, tentu dari detik ini hingga aku mati aku akan melakukan segala kesalahan, karena aku tahu seberapa banyak apapun aku berbuat baik aku akan tetap masuk ke neraka. Dan mengapa banyak sekali manusia yang tetap melakukan kesalahan? Apakah hanya aku yang seperti ini?

Haaaah, sepertinya laptop di depan ku sedang menertawakan mimik muka bingungku. Ya begini lah, hidup selalu tidak adil. Aku berada di lingkarang mahluk hidup yang sangat indah, sedangkan aku sangat buruk. Mengapa demikian? Apa semua orang sama denganku? Aku selalu ingin merasa lebih.